Minggu, 11 Maret 2012

BADAI MATAHARI TELAH BERLALU

BADAI MATAHARI TELAH BERLALU

Kendati tidak melukai manusia, badai matahari berpotensi mengakibatkan gangguan listrik.

BADAI matahari yang dikhawatirkan bakal menimbulkan gangguan teknis di berbagai belahan bumi kemarin berlalu tanpa ada insiden berarti. Sebagaimana dilaporkan Associated Press, badai tersebut memuncak pada Jumat malam di beberapa kawasan di Amerika Serikat. Hal itu mewujud dalam bentuk cahaya langit atau aurora borealis yang bisa dilihat secara kasatmata di Michigan, Wisconsin, Seattle, Alaska, Minnesota, dan North Dakota. Cahaya tersebut juga dapat disaksikan di belahan selatan bumi, seperti di Australia dan Selandia Baru.

Kendati tidak melukai manusia, badai matahari berpotensi mengakibatkan gangguan listrik, global positioning system (GPS), dan satelit di belahan utara bumi.

Karena itu, beberapa maskapai penerbangan berupaya mengantisipasi dengan menunda keberangkatan pesawat-pesawat yang mendekati Kutub Utara.

“Badai matahari sudah berlalu dan masih melaju. Kini, kami sedang memantau bagaimana dampaknya,” kata Joseph Kunches, pakar cuaca dari pusat kajian meteorologi dan geofi sika yang berbasis di Colorado, AS.

Sebelumnya, sejumlah ahli cuaca dan fi sika memperkirakan kecepatan badai matahari awal pekan ini mencapai 6,5 juta kilometer per jam. Namun, ketika muncul pada Kamis (8/3), kekuatan badai tersebut ada di urutan terendah dari skala 1-5. Badai sempat menguat ke level 3 selama beberapa jam pada Jumat (9/3), tapi kembali melemah. Para pakar mengatakan kejadian itu disebabkan bagian magnetik dari badai tersebut berbalik arah ke utara.

“Kita sudah melihat sang petinju seraya menantikan pukulannya, tapi tidak kunjung muncul. Dia justru memukul selagi mundur,” seloroh ahli fi sika Terry Onsager dari pusat kajian meteorologi dan geofi sika NOAA di Boulder, Colorado, AS.

Sekadar catatan, jika badai matahari menuju utara, seperti putaran bumi, gejolak energi akan menyebar ke permukaan bumi tanpa halangan. Tapi, jika sebaliknya, badai matahari akan menyebabkan gangguan listrik dan satelit. Peristiwa itu berlangsung pada 1989, tatkala badai matahari memutuskan aliran listrik di kawasan Quebec, Kanada, yang berpenduduk sekitar 6 juta orang.

Di Indonesia, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengimbau masyarakat agar tidak risau dengan kedatangan badai matahari yang

menghantam bumi. Kepada Media Indonesia, Deputi Sains Antariksa Lapan Thomas Jamaluddin memastikan bahwa badai tersebut tidak mengancam manusia dan perangkat elektronik di Indonesia.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Manusia di bumi dan perangkat elektronik aman karena bumi dilindungi lapisan magnet yang disebut magnetosfer. Betapa pun kuatnya badai matahari, kita tetap aman,“ papar Thomas, kemarin.

Beberapa dampak yang akan terjadi, kata dia, terutama pada operasional satelit dan komunikasi radio gelombang pendek. “Hanya operator satelit dan komunikasi radio yang perlu mengantisipasi.
Tapi mereka umumnya sudah punya prosedur standar,“ jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar